Siapa Boleh Pamer?

Dalam KBBI daring, pamer berarti; menunjukkan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri.

Ada apa dengan pamer?

Begini ceritanya, selama masa pandemi Covid-19, banyak banget gerakan kemanusiaan, aktivitas saling meringankan beban yang terdampak krisis corona. Mulai dari berbagi alat kebersihan dan kesehatan, bagi-bagi makanan, hingga bantuan uang tunai serta lainnya.

Bagus dong? Siapa bilang enggak.

Tapi, saat tayang di media sosial, di mana keadaan sering nampak ‘begitu keras’, ada saja komentar ‘kreatif’ yang mampir di banyak postingan gerakan kemanusiaan: “Pamer lu”, “yaelah riya…”, “gitu aja dipamerin…”, “prettt, jangan mau dikibulin…”

Yap, gerakan kemanusiaan harus tayang di medsos supaya sipongang dan bergelombang. Menggugah orang lain ikut, karena kebaikan harus ditularkan.

Dari rumah, kamu bisa tetap produktif, bisa tetap berperan dalam gerakan kemanusiaan

Dari rumah, kamu bisa tetap produktif, bisa tetap berperan dalam gerakan kemanusiaan

Syaratnya, konten yang menyembul di media sosial harus serba pas; materinya, narasinya, waktunya. Supaya respons muncul sesuai harapan. Walau kita sama-sama tahu, gerombolan nyinyir selalu berharap kita tergelincir.

Kesempatan

Mohon maaf, bukan maksud ngajak nari di tengah kesusahan. Tapi krisis corona ini jadi kesempatan para politikus, kepala daerah atau calon kepala daerah yang sering ‘jualan’ nama rakyat pada masa kampanye. Pas banget, sebentar lagi mau pilkada, kan.

Banyak yang bertanya: “Bapak-Ibu berbuat apa saat ini?”

Maka keluarlah, tunjukkan kepedulian, beri bantuan apapun bentuknya, dokumentasikan lalu sebar. Karena dalam politik, pamer itu sah, bahkan perlu. Inilah waktu pembuktian Anda menepati janji, berpihak pada warga, mampu memimpin, memiliki gagasan, serta apik menghadirkan solusi.

Benar, sebaik-baiknya kebaikan adalah yang sembunyi-sembunyi. Tapi, kalau enggak pamer, gimana kami tahu Bapak-Ibu menepati janji? Jangan pernah kehabisan akal untuk pamer. Tentang niat, tak mampu kita mengukur kedalaman hati seseorang.

Perlu bantuan? Magna Indonesia bisa membuat pamer teramplifikasi dengan baik dan benar. Supaya tidak memalukan dan tidak membuat orang beranggapan “humanity is only seen during this pandemic…”