Hari kartini Indonesia

Kartini Masa Kini, Perempuan Serba Bisa

Mengingat hari Kartini, mungkin banyak di antara kita yang mengaitkannya dengan pawai baju adat, profesi cita-cita, seremoni, lomba masak atau bernyanyi lagu Ibu Kita Kartini. Namun, apakah itu yang didambakan Kartini?

Kita jangan lupa bahwa Kartini adalah sosok pelopor persamaan derajat perempuan Nusantara yang mendedikasikan intelektualitas, gagasan, dan perjuangannya untuk mendobrak ketidakadilan yang dihadapi.

Sebagai pemikir dan penggerak emansipasi perempuan, Kartini menjadi sumber inspirasi perjuangan perempuan yang mengidamkan kebebasan dan persamaan status sosial dengan keberhasilannya menuliskan pemikirannya secara runut dan detail.

Lalu, bagaimana Hari Kartini saat pandemi?

Perempuan saat ini dituntut menjadi perempuan yang pandai, berani, dan bermoral. Bukan karena dipaksa, tetapi ini adalah jalan dan cita mulia yang diperjuangkan Kartini. Peringatan Hari Kartini pada masa pandemi adalah semangat Kartini yang diperingati dengan cara berbeda.

Sama seperti kesulitan yang dihadapi Kartini, pandemi tidak lantas menurunkan peran perempuan untuk menjadi pejuang.

Hari kartini Indonesia

Di masa pandemi ini, perempuan tengah dihadapkan pada situasi di mana mereka bukan lagi kelompok tak berdaya, namun perempuan merupakan aktor utama dalam melawan dan mencegah pandemi. Kartini-Kartini saat ini turut aksi melawan dan mencegah pandemi.

Sebanyak 259.326 atau 71% tenaga medis di Indonesia yang berperang melawan Corona adalah perempuan (data Komnas Perempuan) dan sekitar 60% UMKM di Indonesia yang memproduksi masker, baju pelindung, dan hand sanitizer dikelola perempuan.

Tidak hanya itu, peran strategis perempuan di tengah imbauan untuk tinggal di rumah dan bekerja dari rumah menjadikan perempuan mengambil peran multi, sebagai guru, pengasuh utama anak dan anggota keluarga, mengerjakan pekerjaan rumah, hingga memenuhi pekerjaan kantor.

Selain itu, aktivitas pemenuhan kebutuhan juga banyak dibebankan kepada perempuan sehingga perempuan memiliki potensi lebih untuk kontak dengan orang luar. Hingga pada akhirnya, perempuan telah menjadi promotor langkah pencegahan penyebaran Covid-19 dari rumah.

Peran perempuan sebenarnya tidak perlu lagi diperdebatkan, namun perlu disuarakan. Banyak perempuan mengutamakan kesehatan keluarga dan masyarakat daripada kesehatannya sendiri.

Semua ini telah menjadi satu beban yang ditopang perempuan dan harus mendapatkan perhatian. Tidak hanya masyarakat, tetapi juga pemerintah. Karena mereka yang maju di depan bukan berarti mereka kelompok kebal, namun kelompok rentan yang perlu mendapatkan perlindungan.

Hari Kartini ini adalah pembuktian, perempuan berada di garis terdepan.

Terima kasih ‘Kartini-Kartini’ masa kini, perempuan serba bisa, yang melanjutkan semangat perjuangan Kartini…