Politikus Gagap Bermedia Sosial

Laju cepat perkembangan internet dan media sosial tak dipungkiri telah mengubah pola komunikasi, termasuk komunikasi politik. Strategi, teknik, dan taktik kampanye turut disesuaikan karena lalu lintas gagasan, ide, serta diskusi hingga perdebatan sudah banyak berpindah ke ruang maya.

Terlebih di Indonesia, politikus tak lagi boleh menutup mata dari perubahan yang hadir. Berdasarkan riset terbaru, diperkirakan bahwa pada tahun 2020 diiperkirakan ada lebih dari 175 juta orang Indonesia yang merupakan pengguna internet. Angka itu bertambah 25 juta orang (17 persen) dibanding pada tahun sebelumnya.

Angka 175 juta itu sendiri merupakan 64 persen dari total populasi 272,1 juta orang Indonesia saat ini. Data lain yang tak boleh diabaikan begitu saja adalah bahwa ada 160 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia.

Jangan kira penetrasi internet itu hanya di kota-kota besar. Saat Magna Indonesia berkunjung ke Kabupaten Puncak, Papua, pada akhir tahun lalu misalnya, ponsel pintar, koneksi internet, hingga media sosial sudah menjadi hal biasa bagi penduduk setempat.

Krisis Humas DKI

Sebuah penelitian dari Pew Research Center pada 2012, yang masih relevan dipakai hingga saat ini, menyatakan bahwa 36 persen pengguna menganggap media sosial penting untuk mengikuti berita politik. Selain itu, 26 persen pengguna menganggap penting bagi mereka merekrut orang lain terlibat dalam isu politik.

Media sosial bukan cuma untuk menguatkan preferensi politik, tetapi juga bisa membuat orang berubah sikap dan ganti memilih kandidat lain. Hal ini tak lain akibat persepsi baru yang didapatnya via interaksi di media sosial.

Yang menjadi masalah adalah politikus Indonesia masih terkesan gagap dalam memanfaatkan internet dan media sosial. Alih-alih menggali dukungan dari pemilih potensial, kandidat justru menuai antipati akibat kegagapannya dalam bermedia sosial.

Berikut sejumlah kekeliruan politikus menyikapi laju cepat perkembangan internet dan media sosial:

  1. Gagal menyadari pentingnya peran media sosial
    Hal ini merupakan salah satu kesalahan yang paling jamak terjadi di Indonesia. Masih banyak politikus yang menganggap bahwa kampanye konvensional dengan pengerahan massa tetap jauh lebih efektif. Bilapun memanfaatkan media sosial, terkadang mereka hanya menggunakan salah satu platform dan mengabaikan platform lain. Alasannya beragam, mulai dari ketidakmengertian hingga keengganan mengerahkan sumber daya dan energi untuk beragam platform media sosial.

 

  1. Tidak terencana
    Unggahan yang tidak terencana dengan baik merupakan permasalahan lain. Bukan saja soal konsistensi waktu unggahan, yang merupakan hal vital dalam kampanye di media sosial, tetapi juga terkait ketidaksesuaian materi unggahan dengan pesan dan target kampanye. Seperti halnya perang atau laga sepak bola, kampanye di media sosial juga membutuhkan strategi yang tepat untuk bisa menang di garis akhir. Politikus, atau setidaknya tim kampanye, harus jeli membedakan pesan seperti apa yang tepat disampaikan lewat status, foto, artikel, atau video.

 

  1. Mengabaikan demografi
    Politikus yang bijak juga harus tepat menguraikan demografi yang disasarnya sehingga bisa memilih platform yang tepat untuk kampanye. Sebagai contoh, pemilih pemula mungkin punya akun Twitter, tetapi tidak LinkedIn. Sebaliknya, orang lanjut usia saat ini lebih banyak memakai Facebook alih-alih Instagram. Mengenali target audiens dan kemudian menggunakan media sosial yang tepat bisa menjadi factor penentu dalam upaya memenangi pemilihan.

 

  1. Mengabaikan audiens
    Satu kekeliruan lain yang juga banyak terjadi adalah kandidat hanya fokus pada konten yang diunggahnya, namun kemudian mengabaikan audiens. Media sosial adalah cara berinteraksi dengan orang lain yang jauh lebih mudah dan murah dibandingkan metode konvensional. Artinya, kuncinya adalah BERINTERAKSI. Membalas komentar dari audiens di media sosial bukan hanya bisa membentuk persepsi soal citra yang lebih ramah, tetapi juga bisa menjadi alat untuk menggali insight dari pemilih potensial. Jadi, sekali lagi, BERINTERAKSILAH!

Beragam kekeliruan lain bisa terjadi dalam pemanfaatan media sosial untuk berkampanye. Magna Indonesia bisa membantu Anda menghindari kesalahan demi kesalahan tersebut dan membantu kampanye menjadi lebih efektif, efisien, dan tentu saja: BERBUAH MANIS.